INFO KELURAHAN

Kebersamaan Hebat di Sapar Agung, Warga Giatkan Program SAPAR AGUNG untuk Masa Depan yang Lebih Baik
16 September 2023   178 kali

Kelurahan Ditotrunan, 16 September 2023

Di bulan Sapar masyarakat mempunyai tradisi yakni membuat jenang sapar. Jenang Sapar, sebuah hidangan tradisional Indonesia, memiliki lebih dari sekadar cita rasa yang lezat. Dibalik kelezatannya, jenang sapar juga mencerminkan filosofi yang dalam. Jenang sapar biasanya disajikan pada saat perayaan tradisional, upacara adat, atau momen-momen penting. Berikut adalah filosofi yang mungkin dapat dihubungkan dengan jenang sapar :

  1. Kesederhanaan: Jenang sapar sering kali terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti beras ketan, kelapa, dan gula kelapa. Filosofi di balik jenang sapar mengajarkan nilai kesederhanaan dan menghargai keindahan dalam hal-hal yang sederhana.
  2. Rasa Manis dan Pahit Hidup: Kombinasi rasa manis dari gula kelapa dan rasa khas ketan pada jenang sapar mencerminkan realitas hidup yang terdiri dari momen-momen manis dan pahit. Filosofi ini mengajarkan bahwa kehidupan adalah perpaduan antara kegembiraan dan tantangan.
  3. Kebersamaan: Jenang sapar seringkali disajikan dalam jumlah yang cukup besar, menandakan bahwa hidangan ini diciptakan untuk dinikmati bersama-sama. Filosofi kebersamaan dan solidaritas dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan dapat ditemukan dalam setiap sajian jenang sapar.
  4. Ketahanan dan Keberlanjutan: Gula kelapa yang digunakan dalam jenang sapar berasal dari pohon kelapa yang tangguh dan dapat tumbuh di berbagai kondisi. Hal ini dapat diartikan sebagai simbol ketahanan dan keberlanjutan dalam menghadapi berbagai rintangan dan perubahan dalam kehidupan.
  5. Simbol Budaya: Jenang sapar juga mencerminkan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Filosofi di balik hidangan ini menekankan pentingnya mempertahankan dan menghormati nilai-nilai tradisional serta melibatkan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

Dengan segala makna dan filosofi yang terkandung, jenang sapar tidak hanya memuaskan lidah, tetapi juga membangkitkan kesadaran akan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.

Untuk kali pertama Kelurahan Ditortunan menggelar kegiatan warga bertajuk SAPAR AGUNG. Mereka membuat jenang sapar secara kolosal. Dengan semangat gotong royong warga mengolah semua bahan secara bersama-sama. Dan sejumlah 800 takir jenang sapar siap dibagikan kepada masyarakat Kelurahan Ditotrunan dan sekitarnya.

Acara berlangsung mulai pagi hingga malam hari yang diakhiri dengan kesenian warga. Ada festival Kebaya oleh ibu-ibu dan para remaja putri, serta iringan musik klasik dari warga.

Keberhasilan SAPAR AGUNG di Kelurahan Ditotrunan menjadi inspirasi bagi kita semua. Semangat gotong-royong dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi kunci sukses dalam mewujudkan kelurahan yang bersih, hijau, dan sejahtera. (tr’s)

Salam Sego Takir (Semangat Gotong Royong Nata Lan Mikir)

 

Kembali